Jurnalis RRI Purwokerto, Ustad
Mukorobin., S.Sos.i.,M.I.Kom., menyampaikan bahwa di era digital saat ini,
siapa pun dapat memproduksi informasi dan berperan layaknya jurnalis. Namun, ia
menegaskan bahwa kerja jurnalistik tetap harus mengikuti kaidah media yang
jelas dan terverifikasi oleh Dewan Pers. “Media arus utama memiliki struktur redaksi,
untuk jadi redaksi minimal telah melalui mekanisme uji kompetensi. Media arus
utama punya tanggung jawab etik yang tidak dimiliki oleh akun personal di media
sosial,” ujar pria yang lulusan Pendidikan singkat jurnalisme di University Art
of London Inggris tahun ini.
Ia menjelaskan, saat ini sekitar
1020 kantor media terdaftar di seluruh Indonesia, dengan sekitar 80 persen diantaranya
merupakan media siber. Kondisi tersebut menuntut media arus utama untuk terus
beradaptasi, terutama dengan kehadiran teknologi AI yang mampu memproses data
secara cepat, menganalisis tren, dan membantu produksi konten.
Meski demikian, Mukorobin
menekankan bahwa AI bukan pengganti jurnalis. “AI hanya meniru dan mengolah
data dari konten yang sudah ada. Orisinalitas, empati, dan verifikasi tetap
menjadi peran manusia,” katanya.
Menurut pria yang juga pernah
mengenyam Pendidikan singkat jurnalistik TV di Du Lasalle College of The Arts-Singapura ini, kolaborasi
antara jurnalis dan teknologi justru diperlukan dengan tetap menjaga agar
kredibilitas dan kualitas berita tetap terjaga serta menjaga kepercayaan publik
tidak hilang.
Ketua Program Studi IlmuKomunikasi Universitas Harkat Negeri, Himawan Ardhi Ristanto, S.I.Kom., M.I.Kom
menyatakan bahwa kuliah praktisi ini bertujuan memberi ruang bagi mahasiswa
untuk belajar langsung dari jurnalis. “Mahasiswa perlu memahami dunia
jurnalistik dari sumbernya, bukan hanya teori di kelas,” ujarnya.
Dekan Fakultas Sosial dan
Humaniora (FSH) UHN, Ida Farida, SE, M.Si., Ak.T. membahkan bahwa
kegiatan ini
menjadi bekal penting bagi mahasiswa menghadapi dinamika media di era digital.
“Pemahaman tentang etika, verifikasi, dan peran manusia dalam jurnalistik
sangat relevan untuk pengalaman dan masa depan mereka,” tuturnya.
Kuliah praktisi ini diikuti oleh
mahasiswa Ilmu Komunikasi dari beberapa kampus di Tegal, Semarang, dan Bandung. Kuliah praktisi ini menjadi bagian
dari upaya prodi dalam memperkuat kompetensi praktis mahasiswa di bidang
jurnalistik.










